rss
email
twitter
facebook

Rabu, 07 April 2010

Rinitis Alergi

Oleh : Muhammad al-Fatih II

Rinitis alergi menurut WHO (2001) adalah kelainan pada hidung setelah mukosa hidung terpapar oleh alergen yang diperantarai oleh IgE dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal pada hidung dan hidung tersumbat.

Klasifikasi rinitis alergi, yaitu :

Rinitis alergi intermitten (kadang-kadang). Gejalanya 4 hari per minggu atau 4 minggu

sebaliknya yang persisten > 4 hari per minggu atau > 4 minggu

Rinitis alergi ringan. Tidak mengganggu aktivitas harian, tidur, bersantai, olahraga, belajar & bekerja.
Rinitis alergi sedang & berat. Mengganggu 1 atau lebih aktivitas tersebut.

Gejala klinik rinitis alergi, yaitu :

  • Bersin patologis. Bersin yang berulang lebih 5 kali setiap serangan bersin.
  • Rinore. Ingus yang keluar.
  • Gangguan hidung. Hidung gatal dan rasa tersumbat. Hidung rasa tersumbat merupakan gejala rinitis alergi yang paling sering kita temukan pada pasien anak-anak.
  • Gangguan mata. Mata gatal dan mengeluarkan air mata (lakrimasi).
  • Allergic shiner. Perasaan anak bahwa ada bayangan gelap di daerah bawah mata akibat stasis vena sekunder. Stasis vena ini disebabkan obstruksi hidung.
  • Allergic salute. Perilaku anak yang suka menggosok-gosok hidungnya akibat rasa gatal.
  • Allergic crease. Tanda garis melintang di dorsum nasi pada 1/3 bagian bawah akibat kebiasaan menggosok hidung.
  • Diagnosis rinitis alergi, yaitu :

    • Anamnesis.
    • Seringkali serangan rinitis alergi tidak terjadi di hadapan pemeriksa.

    • Rinoskopi anterior.
    • Terlihat mukosa hidung edema, basah & berwarna pucat (livid), dan banyak sekret encer.

    • Nasoendoskopi.
  • Sitologi hidung.
  • Kita dapat menemukan banyak eosinofil (menunjukkan alergi inhalan), basofil 5 sel/lap (menunjukkan alergi ingestan), dan sel PMN (menunjukkan infeksi bakteri).

  • Hitung eosinofi
  • l. Menggunakan darah tepi. Hasilnya bisa normal & meningkat.
    Jenis tes diantaranya prist-paper radio immunosorbent test untuk memeriksa IgE total; radio immunosorbent test (RAST) & enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) test keduanya untuk memeriksa IgE spesifik.
    Uji kulit.
    Untuk mencari alergen penyebab secara invivo
    Jenisnya skin end-point tetration/SET (uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri), prick test (uji cukit), scratch test (uji gores), challenge test (diet eliminasi dan provokasi) khusus untuk alergi makanan (ingestan alergen) dan provocative neutralization test atau intracuteneus provocative food test (IPFT) untuk alergi makanan (ingestan alergen).

    Terapi rinitis alergi, yaitu :

    Hindari kontak & eliminasi. Keduanya merupakan terapi paling ideal. Hindari kontak dengan alergen penyebab (avoidance). Eliminasi untuk alergen ingestan (alergi makanan).
    Simptomatik. Terapi medikamentosa yaitu antihistamin, dekongestan dan kortikosteroid.
    Operatif. Konkotomi merupakan tindakan memotong konka nasi inferior yang mengalami hipertrofi berat. Lakukan setelah kita gagal mengecilkan konka nasi inferior menggunakan kauterisasi yang memakai AgNO3 25% atau triklor asetat.
    Imunoterapi. Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi. Desensitasi dan hiposensitasi membentuk blocking antibody. Keduanya untuk alergi inhalan yang gejalanya berat, berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan. Netralisasi tidak membentuk blocking antibody dan untuk alergi ingestan.

    Komplikasi rinitis alergi,
    yaitu :

    • Polip hidung. Rinitis alergi dapat menyebabkan atau menimbulkan kekambuhan polip hidung.
    • Otitis media. Rinitis alergi dapat menyebabkan otitis media yang sering residif dan terutama kita temukan pada pasien anak-anak.
    • Sinusitis paranasal.
    • Otitis media dan sinusitis paranasal bukanlah akibat langsung dari rinitis alergi melainkan adanya sumbatan pada hidung sehingga menghambat drainase.


    Sumber:

    http://hennykartika.wordpress.com/category/hidung/page/2/

    2 komentar:

    Poskan Komentar

    Related Posts with Thumbnails